Kemana Uang yang Rutin Aku Kirim Part 4

Kemana Uang yang Rutin Aku Kirim

  • “Iya, Laras. Ambil saja gamis itu, kakak tidak cocok dengan modelnya, gamis itu terlalu bermodel terlihat aneh bila ibu-ibu seperti kakak yang menggunakannya. Gamis model begitu cocoknya untuk gadis belia sepertimu.”
  • Di luar dugaan, ternyata Kalila menyetujui ucapan marahku. Aku pikir dia akan merajuk, memohon atau balik memarahiku, tapi dengan entengnya dia memberikan gamis itu pada Larasati. Aku hanya terbengong melihat kelakuan Kalila yang semakin sombong, bahkan aku melihat Kak Sulis dan Kiranapun mencabik.
  • “Sombong.”
  • “Pencitraan.”
  • Dua wanita itu mencabik sambil melirih.
  • Lain halnya dengan Laras, dia berseru kegirangan menanggapi ucapan iparnya yang sok itu.
  • “Beneran, kakak memberikan gamis ini padaku?” ujar Laras sambil mengangkat dua gamis itu.
  • “Iya, ambil saja!” jawab Kalila “Sekalian, ambil saja gamis kecil dan baju untuk Jalal itu! Mereka akan aku belikan yang lain saja, masak ayah mereka yang pulang dari rantauan membawa uang banyak mendapatkan baju murahan seperti itu. Juga apa kakak tidak malu seandainya orang bertanya kenapa baju lebaran anak-anak pada jelek, sementara ayahnya punya uang banyak, masak yang bagus baju keponalan saja, baju anak sendiri tipis murahan seperti itu!”
  • Kalila menambahkan dengan gerutuan panjang lebar. Belum cukup dengan itu, dia mempengaruhi Jalal dan Salsabila pula.
  • “Jalal, Bila, besok minta ayah belikan baju lebaran yang bagus dan mahal, ya!”
  • “Iya, Bu. Yah, besok kita beli, ya!”
  • Aku ingin menjawab tidak dengan permintaan Jalal, juga ingin marah karena ucapan Kalila. Akan tetapi ucapan Kalila yang terakhir membuatku bertahan untuk tidak melakukan itu. Benar yang dia katakan, tanggapan orang pasti jelek bila melihat dua anakku berpakain jelek, sementara aku baru pulang dan mempunyai uang banyak.
  • “Baiklah, besok kita pergi,” jawabku kemudian.
  • “Horeeee … beli baju lebaran!” teriak Jalal, dan Kalilapun tersenyum lebar.
  • Perhatian kami semua kemudian teralih ketika Kak Gufron membuka suara.
  • “Ini sudah sangat sore, sebaiknya kita pulang saja! Sebentar lagi waktu berbuka akan tiba.” ucapnya.
  • “Lho, kok pulang? Mengapa tidak berbuka bareng di sini saja!” Kalila menyambut dengan cepat.
  • “Berbuka di sini? Apa tawarannya itu tidak salah, Kalila. Lidah kami dan kamu tidak sama, kami tidak terbisa berbuka dengan lauk sampah!” Kak Anjani menjawab sengit.
  • “Lauk sampah, maksud kakak apa? Aku masak op … “
  • “Tadi ibu bawa opor ayam, biar kalian berbuka di sini dengan opor yang ibu bawa!”
  • Kalila ingin membela diri, tapi ibuku lebih dulu bersuara mendahulinya.
  • “Aku juga masak opor ayam, Bu.” Kalila tidak mau kalah, dia berucap cepat sebelum yang lain angkat bicara.
  • “Lho, kok kamu jadi mengaku-ngakui masakan ibu, si?” sangkal ibuku.
  • “Aku tidak mengakui, Bu. Benar ibu memang membawa opor ayam, tapi aku juga masak sekilo ayam. Aku sengaja masak banyak karena tau kalian akan ke sini,” jawab Kalila.
  • “Alahh, tidak perlu berbohong sampai segitunya Kalila. Semua juga tau bagaimana dirimu, kau hanya masak sampah setiap hari!” Kak Kirana menyambut.
  • “Tapi benar kok, ibuku masak opor ayam. Iya kan, Yah?”
  • Ucapan dan tatapan polos dari Jalal nembutku seolah terhipnotis, aku menangguk, tapi dengan cepat mengalihkan perhatian.
  • “Sudah-sudah, jangan ributkan ini! Sebaiknya segera saja hidangkan! Kalila kenapa kau hanya bicara saja, keluarkan segera makanannya!” perintahku kemudian.
  • “Iya, sebentar lagi kita akan berbuka.” Kak Gufron menyambut ucapanku.
  • Dia kemudian meminta anak menantunya yang lain untuk membantu.
  • “Kalian, bantu adikmu!” perintahnya.
  • “Ihhh, enggak enaklah, Bu. Inilkan rumah Kalila, masak kita mau ikut-ikutan keluar masuk,” jawab Kak Kirana.
  • “Iya ibu ini, masak kita mau ikut mengobrak-abrik dapur orang,” timpal Kak Sulis, dan ibuku terdiam dengan jawaban mereka.
  • Akhirnya tak ada yang membantu Kalila, akupun sangat enggan membantu, masak laki-laki harus ikut bantu-bantu tanggung jawab perempuan. Ogah, nanti aku dikira suami takut istri sama keluargaku.
  • Beberapa saat setelah makan terhidang, Adzan Magribpun berkumandang.
  • “Sudah Adzan, mari berbuka!” ucap ibuku.
  • “Mari, selamat berbuka semuanya,” sambut Kalila.
  • Sebenarnya aku dan Kalila tidak berpuasa, karena sebelum siang tadi aku sudah merusak semuanya. Akan tetapi tidak mungkin kubeberkan semua itu pada keluargaku, bisa-bisa aku diledek dan dijadikan gunjingan. Diantara semua orang malah akulah yang paling bersemangat menyendok nasi.
  • Opor yang dibuat Kalila dan ibuku sama menggiurkannya, ada juga lauk lain yang dihidangkan Kalila, aku tidak tau itu apa karena letaknya ada di dekat dia, sementara aku duduk di dekat Kak Gufron dan lelaki lainnya, sementara dirinya berdekatan dengan Kak Kirana dan Kak Sulis.
  • Kak Sulis dan Kak Kirana nampak lahap menikmati opor ayam buatan Kalila, sudah beberapa kali aku melihat mereka menyendok daging ayam itu dan memasukkannya ke mulut dengan penuh. Aku pikir mereka sangat menyukai opor itu, karena rasanya memang sangat nikmat.
  • Akan tetapi, aku keliru ternyata mereka berucap lain. Sambil mengunyah potongan besar daging ayam, Kak Kirana berujar.
  • “Sebenarnya aku sudah sangat bosan dengan daging ayam, setiap hari selalu masak ayam,” ucapnya, tapi tak henti dia mengunyah ayam itu dengan lahapnya.
  • Mereka terlihat lahap, tapi ternyata mereka sudah bosan.
  • “Jadi, setiap hari Kakak masak ayam?” tanya Kalila.
  • “Kami tidak sepertimu Kalila, selalu memasak sampah. Daging ayam bukan barang langka, kami selalu membuangnya karena selalu tersisa,” ucap Kak Sulis.
  • “Ihhh … Iya, pokoknya daging-dagingan bagiku sudah sangat membosankan, aku lebih senang bila memakan sayur-mayur,” Kak Kirana menyambung.
  • Mendengar jawaban dari dua iparnya, Kalila tersenyum. Tangannya Kemudian bergerak mengambil piring yang berisi opor ayam yang berada di depan Kak Kirana dan Sulis. Melihat itu, Kirana dan Sulis melotot, dengan serempak mereka membentak.
  • “Lho, mau kau kemanakan opor ayam itu?”
  • Dengan senyum yang masih mengembang di bibirnya, Kalila menjawab.
  • “Bukankah kakak-kakak sudah sangat bosan dengan daging ayam, untuk itu biar Jalal dan Salsabila saja yang memakannya, kasian mereka selalu makan berlauk sampah setiap hari.”
  • Tak sedikitpun terlihat beban di wajah Kalila saat berucap begitu, dengan cepat dia meletakkan piring opor itu di depan kedua anakku.
  • “Makan opor ayamnya yang banyak ya, sayang! Kalian sudah sangat lama tidak memakan daging ayam,” ucapnya lagi sambil membelai kepala kedua anakku secara bergantian.
  • “Iya, Bu. Akan aku habiskan daging ayam yang ada di piring ini,” ucap Jalal.
  • “Lalu, kami harus makan dengan lauk apa!” seru Kak Kirana.
  • Kalila berpaling menghadap Kak Kirana lagi, dengan senyum yang semakin mengembang dia mengambil piring sayur yang ada di dekatnya kemudian meletakkannya di depan Kak Kirana dan Sulis, menggantikan piring opor tadi. Dengan lembut Kalila kemudian berkata.
  • “Karena kakak-kakak sudah sangat bosan dengan daging ayam, maka makanlah berlauk sayur ini. Bukankah tadi kakak juga berkata begitu, lebih suka sama sayur.”
  • Kirana dan Sulis melotot.
  • “Sayur apa ini?” tanya mereka bersamaan.
  • “Pelepah talas, sisa kemarin,” jawab Kalila.
Bersambung.