Sinopsis Novel Si Anak Pintar Karya Tere Liye

Sinopsis Novel Si Anak Pintar

Si Anak Pintar adalah novel ketiga dari serial Anak Nusantara. Novel karya penulis terkenal Tere Liye ini merupakan recover dari buku yang sebelumnya berjudul “Pukat” yang termasuk dalam serial Anak Mamak. Sinopsis novel Si Anak Pintar memberikan gambaran sekelumit kisah dari seorang anak dengan karakter yang genius.

Novel Si Anak Pintar ini diterbitkan pada bulan Desember 2018. Novel yang dicetak dengan jumlah halaman sebanyak 345 lembar ini konon katanya merupakan mahkota dari serial buku ini. Ada yang penasaran bagaimana kisah dan alur cerita novel ini?

Sinopsis Novel Si Anak Pintar

Novel Si Anak Pintar teridiri dari 25 bab yang menceritakan kisah seorang anak bernama Pukat. Pukat adalah anak kedua dari mamak Nurmas dan bapak Syahdan yang memiliki kepintaran sekaligus kenakalan khas anak-anak. Pembaca akan dibawa bernostalgia di jaman tahun 1970-an dimana kesederhanaan begitu sangat dominan.

Latar tempat novel ini terletak di sebuah kampung dengan kondisi tanpa penerangan listrik. Maka setiap malam dilalui dengan kondisi yang begitu gelap gulita hanya ditemani cahaya dari sebuah alat bernama petromak dan lampu canting. Sungguh pilihan setting yang cukup unik.

Pukat berasal dari keluarga yang sederhana dengan orang tua yang selalu harmonis. Pukat memiliki tiga saudara lain yaitu Burlian, Eliana, dan Amelia. Pukat menjadi anak yang memiliki kecerdasan dan kepintaraan lebih dibanding saudaranya yang lain.

Tapi selayaknya seorang anak kecil, Pukat memiliki rasa penasaran yang tinggi akan hal-hal yang terjadi disekitarnya. Tak jarang sifat nakalnya muncul seperti bertengkar dengan teman, atau melakukan hal yang dilarang oleh orang tua.

Kisah berawal dari Pukat, Bapak, dan Burlian yang melakukan perjalanan dengan transportasi kereta api. Ini adalah pengalaman pertama bagi mereka dengan tujuan ke kota. Namun ditengah perjalanan mereka dikejutkan dengan aksi segerombolan perampok.

BACA JUGA :  Cerpen Romantis Menikah Jelang Ramadhan Part 7

Suasana dalam kereta begitu menakutkan dan mencekam. Dalam gelapnya gerbong, para penumpang jelas akan sulit mengenali wajah perampok. Disinilah pukat dengan kepintarannya memecahkan misteri dan mengungkap identitas segerombolan perampok tersebut.

Pernah suatu waktu ketika Pukat sedang sekolah, dia lupa membawa alat tulis cadangan. Peraturan ketika sedang ulangan adalah dilarang saling meminjamkan alat tulis dengan sesama teman. Dan akhirnya Pukat memutuskan unruk membeli ke toko terdekat.

Sayangnya toko tersebut tutup karena ibu Ahmada sang pemilik warung sedang merawat putrinya yang sakit. Disinilah Pukat berlajar makna dari sebuah kejujuran ketika ibu Ahmada menginjinkannya mengambil sendiri bolpoin dari toko.

Kisah berlanjut seputar teman-teman Pukat yang memiliki karakter yang berbeda-beda. Can yang merupakan anak yang jujur dan si Saleha gadis cantik dengan hati yang baik. Jangan lupakan Raju si anak pekerja keras dan lamsari yang memiliki hobi makan.

Pertemanan yang solid juga terkadang dibumbui oleh pertengkaran. Hal ini terjadi ketika Pukat dan Raju bertengkar yang menyebabkan kedua anak kecil tersebut tidak bertegur sapa selama beberapa hari.

Watak lain Pukat adalah keras kepala. Beberapa kali diberi nasehat untuk berdamai dengan Raju, dia pun menolak. Hingga pada akhirnya Pukat belajar makna akan pentingnya arti persahabatan. Menurunkan ego dan lebih mengutamakan jalinan pertemanan yang sudah terjalin lama.

Novel ini juga menceritakan kisah mengharukan tentang cinta seorang mamak. Betapa besar dan luasnya kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya. Orang tua yang tidak pernah lelah mengajarkan nilai kepribadian sejak seorang anak masih kecil.

Makna hidup terukir dari tokoh Wak Yati yang merupakan saudara perempuan Bapak. Lewat permainan teka-teki, Pukat bisa menemukan harta paling berharga di kampungnya. Sayangnya jawaban tersebut hanya bisa disampaikan di atas pusara Wak Yati karena beliau telah wafat.

BACA JUGA :  Cerpen Romantis Menikah Jelang Ramadhan Part 1

Akhirnya cerita novel Si Anak Pintar justru membuat penasaran karena sulit ditebak. Cerita ditutup dengan keberhasilan si anak pintar Pukat yang berangkat ke Negara Amsterdam untuk mengenyam pendidikan lanjutan. Tak ketinggalan juga adik Pukat yaitu Burlian yang berkuliah di Tokyo.

Nilai Kehidupan Dalam Novel Si Anak Pintar

Tere Liye sudah menulis banyak karya dan kesemuanya selalu mengesankan untuk dimaknai. Begitupun dengan Novel Si Anak Pintar yang kental akan nilai-nilai pendidikan karakter anak.

  1. Nilai agama

Karakter ketuhanan tercermin dari kekuatan doa yang tidak pernah putus dipanjatkan pada Tuhan Yang Maha Esa. Selalu mengingat Allah dalam segala keadaan dan kondisi.

Tokoh utama yaitu Pukat berasal dari kehidupan keluarga yang tiada henti mengajarkan nilai-nilai religi. Tercermin juga dari beberapa penggalan kisah tentang kegiatan ibadah wajib yang rutin dikerjakan dan kegiatan lainnya yang melibatkan unsur keagamaan didalamnya.

  1. Kasih sayang

Keluarga menjadi titik awal tumbuhnya suatu sifat dan karakter dari seorang anak. Anak yang tumbuh dengan pondasi religi yang baik, pengajaran makna hidup yang baik maka akan tumbuh menjadi pribadi yang baik pula.

Mengajarkan ilmu kehidupan bisa dengan banyak cara. Seperti kisah Si Anak Pintar ini lewat sebuah cerita, teki-teki, bahkan juga permasalahan di kehidupan sehari-hari.

  1. Kejujuran

Kejujuran menjadi modal penting bagi kehidupan seseorang. Kejujuran akan membawa dampak positif bagi orang-orang disekitar terkhusus untuk diri sendiri.

Bahkan anak kecil seperti Pukat bisa memiliki ide untuk membuka sebuah warung kejujuran. Walaupun pada realitanya memang tidak mudah menerapkan sifat kejujuran ini pada semua orang terlebih anak-anak sekolah tingkat dasar.

Selain keluarga, nyatanya peran lingkungan turut membentuk sifat ini. Contohnya adalah para tenaga pendidik di lingkungan sekolah atau guru ngaji yang tidak pernah lelah mengajarkan anak muridnya untuk bersikap dan berkata jujur.

  1. Kedisiplinan
BACA JUGA :  Menikah Jelang Ramadhan Part 6 Cerpen Romantis

Sikap disiplin tidak hanya terucap lewat perkataan saja,tapi juga harus dibuktikan dengan sikap dan perbuatan. Orang dewasa yang mengajarkan kedisplinan kepada anak, harusnya juga melakukan sikap disiplin dalam segala aspek kehidupan.

Pendidik menjadi suri tauladan yang tepat selama proses kegiatan belajar mengajar berlangsung. Dan orang tua berperan dalam keluarga agar bisa dicontoh anak-anaknya. Semua memiliki tempat dan porsinya masing-masing untuk pembentukan karakter anak.

  1. Pesan moral

Waktu yang tepat untuk membentuk kepribadian seorang anak adalah ketika anak tersebut masih kecil. Anak biasanya suka meniru apa yang diucapkan dan dilakukan oleh orang dewasa. Memberi pengertian pada anak kecil tidak sesulit ketika anak tersebut sudah remaja atau dewasa.

Benar jika ada istilah ibu adalah madrasah yang utama bagi seorang anak. Hal ini sudah dimulai bahkan ketika si anak masih berada dalam kandungan. Tapi peran ayah pun sangat dibutuhkan untuk membentuk keluarga yang harmonis.

Itulah gambaran singkat sinopsis Novel Si Anak Pintar dan beberapa nilai kehidupan yang terdapat dalam novel tersebut. Meskipun novel ini berkisah tentang anak-anak, namun bisa dibaca oleh segala umur baik anak-anak, remaja, hingga orang dewasa.