Sinopsis Buku Novel Selamat Tinggal Karya Tere Liye

Sinopsis Buku Novel Selamat Tinggal

Secara keseluruhan, novel garapan Tere Liye yang berjudul Selamat Tinggal menjadi perhatian banyak orang. Pasalnya di dalam novel tersebut memiliki cerita yang cukup menyindir dan sesuai dengan kehidupan.

Tere Liye mengilustrasikan sebuah gambaran dari sifat asli manusia. Yang rakus akan kekuasaan, rakus harta dan masih banyak lagi. Novel ini juga mengisahkan tentang dunia politik yang mengandung banyak kontroversi.

Selain itu, sang penulis juga mengingatkan tentang pembajakan buku yang akan merugikan banyak orang terutama para penulis. Tere Liye sangat menentang mengenai perilaku pembajakan buku tersebut. Ia juga sering mengunggah postikan mengenai penentangannya terhadap pembajakan buku.

Melalui novel ini, Tere Liye hanya ingin meluapkan kejengkelannya terhadap pembajakan buku. Bukan hanya buku, melainkan semua produk bajakan yang masih tersebar luas terutama di Indonesia. Tema yang diambil pun sangat menarik dan jarang ada penulis yang mau mengangkat cerita terkait pembajakan buku untuk novelnya.

Hingga saat ini, pembajakan buku masih saja banyak ditemui dan dilakukan. Karena hal inilah Tere Liye akhirnya membuat sebuah buku.

Hebatnya lagi, disetiap tokoh dalam novel ini berkaitan erat dengan pengambilan kekayaan milik orang lain. Ia terang-terangan menceritakannya tanpa harus memberikan perumpamaan.

Novel ini disajikan dengan bahasa yang sederhana sehingga mudah dipahami oleh pembaca terutama para remaja. Tokoh-tokoh yang ada pada novel ini juga memiliki karakter yang kuat dan memberikan inspirasi.

Sinopsis novel Selamat Tinggal dapat menjadi gambaran untuk Anda sebelum membeli bukunya

Sinopsis

Novel ini menceritakan seorang penjaga toko buku yang berada di dekat stasiun kereta listrik bernama Sintong Tinggal. Ia merupakan salah satu mahasiswa rantau yang sedang belajar di salah satu Universitas di Indonesia.

BACA JUGA :  Sinopsis Buku Novel Si Anak Spesial Karya Tere Liye

Sintong adalah mahasiswa Fakultas Sastra tahun ke tujuh masa kuliahnya. Ia belum juga lulus sehingga menyebut dirinya sebagai “mahasiswa abadi”.

Ia merupakan anak ke tujuh dari sembilan bersaudara dan berasal dari Sumatera. Ia memiliki cita-cita menjadi seorang penulis. Sintong memiliki pendapat meskipun tidak kaya harta setidaknya harus kaya wawasan. Karena hal itulah ia dapat melanjutkan belajar di jenjang yang lebih tinggi.

Sintong bekerja sembari kuliah sebagai penjaga toko bernama toko buku “berkah”. Tidak seperti toko buku pada umumnya yang berada di dalam pusat perbelanjaan, toko milik Paklik ini sangat sederhana. Toko tersebut hanya bermodalkan kipas yang cukup tua sehingga mengeluarkan bunyi derit yang khas.

Berbeda dengan namanya, toko tersebut tidak mencerminkan keberkahan. Sebab menjual berbagai macam buku bajakan.

Namun bagi Sintong, menjual buku bajakan membuat idealisme nya bangkit. Sebab ia sama saja turut andil pada ranah ilegal dan meraup hak kekayaan milik orang lain.

Disamping itu, ia juga memikirkan bagaimana kedua orang tuanya yang tidak memiliki biaya untuk membayar semua kebutuhan belajarnya. Sedangkan, Paklik ingin saja untuk membantu membayar biaya tersebut dengan syarat Sintong harus bekerja menjaga toko buku miliknya.

Karena tak kunjung lulus, Sintong pun selalu ditekan untuk segera menuntaskan kuliahnya. Ia juga sering ditanya terkait kapan ingin menuntaskan persoalan kuliahnya tersebut.

Sebenarnya, Sintong merupakan salah satu mahasiswa yang cukup cerdas. Ia pernah membuat sebuah tulisan dan tulisan tersebut dimuat disalah satu koran nasional. Selama di kampus, ia juga pernah menjadi wakil pemimpin redaksi majalah.

Ketika masa SMA ia pernah mengalami sakit hati akibat kisah cintanya dengan temannya, hal inilah yang menjadi penyebab Sintong tak kunjung lulus. Karena sintong terlalu terikat dengan wanita yang Bernama Mawar Terang Bintang.

BACA JUGA :  Sinopsis Novel Si Anak Cahaya Karya Tere Liye

Mereka bertemu kembali setelah berpisah bertahun-tahun. Karena pertemuan itulah menjadikan hati Sintong menjadi perih kembali. Ia merasa teringat pada kisah cinta yang begitu pait pada sosok wanita yang dulu pernah ia sayangi.

Ia memegang teguh sebuah prinsip, tetapi dikarenakan krisis ekonomi keluarganya sehingga ia harus mengesampingkan prinsip tersebut. Bahkan ia juga melakukan hal-hal yang sebenarnya ia benci.

Begitu juga dengan kisah cinta yang terjadi pada Sintong. Ia mengalami patah hati dan mengucapkan selamat tinggal kepada masa lalunya. Beberapa lama kemudian, Sintong kembali memiliki sebuah cerita seperti orang-orang pada umumnya.

Awal mulanya ketika ia meladeni seorang pembeli yang mampu memikat hatinya. Perempuan tersebut adalah salah satu mahasiswi Fakultas Ekonomi berambut Panjang. Ia juga memiliki wajah yang bersih dengan pakaian yang fashionable.

Perempuan tersebut bernama Jess. Ia kerap memperlihatkan ketertarikannya kepada Sintong. Meskipun Sintong tidak menyukai menjadi penjaga toko buku bajakan, namun karena kehadiran Jess tersebut dapat menambah suasana bahagia dalam hidupnya.

Semakin hari, Sintong semakin dekat dengan Jess. Bahkan mereka sering bertukar pesan dan menanyakan aktivitas masing-masing. Karena dirasa ada lampu hijau dari Jess, Sintong pun siap membuka hatinya kembali.

Dalam kehidupan, pasti ada kalanya ketika harus melakukan hal yang tidak disukai. Tetapi disetiap hal tersebut pasti ada suatu hal yang dapat dijadikan pembelajaran.

Seperti halnya pada Sintong. Karena bekerja di toko buku bajakan, ia pun dapat meminjam dan membaca buku sesuka hatinya.

Ia dapat menemukan buku-buku yang cukup sulit ditemukan. Seperti buku dari penulis Sutan Pane. Karena ia dapat menjadikan buku tersebut  rujukan ketika hendak menulis skripsi sebagai tugas akhir kuliahnya.

BACA JUGA :  Cerpen Menikah Jelang Ramadhan Part 4

Karena buku dan tugas akhir tersebut, menyebabkan dirinya harus mengikuti perjalanan dari seorang Sutan Pane. Ia menggali berbagai macam informasi mengenai karya-karya yang telah dibuat oleh Sutan Pane.

Sintong terketuk hatinya dikarenakan tugas akhir yang ia kerjakan mengenai Sutan Pane. Ia berfikir bagaimana mungkin bahwa seorang penjaga toko buku bajakan dapat menyusun tulisan mengenai seorang penulis yang selalu berpegang teguh pada ideologinya.

Tidak hanya menjaga toko buku bajakan saja, ia pun bahkan menyebarkan hingga mendirikan toko buku online yang saat ini ramai di masyarakat. Tapi hebatnya, ia dapat mendapatkan cara untuk mengatasi hal tersebut.

Setelah beberapa waktu berlalu, tugas akhir nya pun mengalami kemajuan dengan pesat. Tugas akhir tersebut dimuat di surat kabar nasional. Bahkan menjadi bahan perbincangan oleh banyak orang dan tak lepas juga dari para kritikus.

Karena tulisannya yang dikenal banyak orang, ia pun dapat bangkit dari keterpurukannya dan membuat keluarga dan teman-temannya bangka.

Itulah sinopsis tentang salah satu karya Tere Liye berjudul Selamat Tinggal. Sang penulis ingin menyampaikan bahwa dalam kehidupan manusia memang tidak selalu berjalan sesuai dengan yang diharapkan.

Hanya sang Pencipta yang memiliki hak untuk menetapkan dan mengatur kehidupan tersebut. Terkadang seseorang harus dipaksa melakukan hal-hal yang tidak disukainya. Tetapi setiap hal pasti ada sisi positifnya.

Sudah tidak diragukan lagi mengenai keberhasilan Tere Liye dalam membawakan narasi, membangun sebuah cerita dan bahkan melibatkan pembaca dalam arus cerita yang disampaikan. Terutama pada novel Selamat Tinggal yang memiliki kualitas yang sangat bagus.