Menikah Jelang Ramadhan Part 6 Cerpen Romantis

MENIKAH JELANG RAMADHAN Part 6

“Dosa kamu bila tak mengikuti perintahku,” senyumnya membuatku ingin menonjoknya. Awas saja di lain kesempatan aku akan membalasnya.
Dengan mengembuskan napas kesal aku kembali duduk menatap Amel yang tersenyum bahagia.
“Jadi, kalian sudah kenal lama?” tanyaku akhirnya karena aku takkan bisa diam dalam suasana seperti ini.
“Tidak juga, hanya kenal,” jawab Amel tanpa rasa bersalah.
“Kamu tahu kalau dia akan jadi suamiku?” tanyaku lagi rada berbisik meskipun percuma karena pria bergelar suamiku ini duduk sangat dekat, dan aku yakin meskipun dia tengah menunduk memperhatikan ponsel pintarnya, tapi dia mendengarkan kami.
“Tahu.”
“Kenapa tidak memberitahuku,” geramku nyaris menangis, aku merasa sangat dicurangi.
“Kamu ingat ketika kamu kecipratan lumpur waktu itu? Kau amat menyeramkan, jadi ayah dan ibumu melarang aku menceritakan semuanya padamu.”
“Tega sekali, ini namanya curang.”
“Memangnya kalau kamu tahu akan dijodohkan dengan Mas Hanan apa kamu akan setuju.”
“Ya nggaklah!” Aku berdiri meninggalkan mereka berdua tak peduli dengan apa yang dikatakan Ibu atau Hanan itu, aku tak peduli, titik!
Aku masuk kamar menghapus air mata kekesalan. Aku sih mengerti kalau yang lain berbohong, tapi Amel?
Bukannya dia yang selalu tahu bagaimana aku. Bukannya dia yang selalu menakuti tentang ‘begituan’. Aku tidak menyangka dia berbohong.
“Aisa!”
Terdengar suara Amel dari luar.
Aku diam saat ini sangat kecewa padanya, dia pembohong.
“Aisa, oke aku minta maaf. Kamu tahu kan aku tidak bisa menolak permintaan ayah ibumu jadi berbohong deh, maaf ya.”
Aku menutup telinga dengan bantal.
“Aisa!”
Aku tidak menjawab sampai suara panggilan itu berubah jadi suara Ibu. Dengan malas aku bangkit. Ibu mengatakan akan segera berangkat.
Sudah sore tapi sepertinya tidak menyurutkan semangat Bapak dan Ibu juga yang lainnya yang hendak menuju kota.
Apa saat ini hanya aku yang dirudung duka? Aku mengabaikan Amel, tidak peduli jika dia mengajakku bicara, aku benar-benar marah.
Bus Pemda penuh meninggalkan aku tersisa di pintu bus dengan nelangsa bahkan sampai berkali-kali mengusap air mata. Sedih akan meninggalkan kampung.
“Kamu bersama suamimu saja.” Mama mertuaku menunjuk mobil pribadi yang parkir di ujung jalan dengan seorang pria bersandar di sana, Hanan.
“Aku ….”
“Ayo, Sayang” bujuknya lagi.
Aku tidak punya pilihan perlahan melangkah ke arah mobil itu dengan orang yang sudah menunggu dengan sabar.
Dia membukakan pintu dengan posisi aku duduk di sampingnya yang bertindak sebagai supir. Tentu saja aku tidak akan melupakan mobil ini. Mobil ini dan bau air yang menciprati bajuku waktu itu.
Aku duduk dengan diam, entahlah banyak perasaan baru yang kini bercampur dalam hati. Kekesalan, merasa dicurangi, dipaksa menerima keadaan dan perubahan status dengan orang asing.
Aku terkejut ketika dia mendekat dan meraih sesuatu di sampingku. Nyaris saja berteriak kalau saja alarm di kepala tidak berdentang mengatakan kalau dia suamiku.
Astaga, apa dia akan menciumiku?
Tidak!
“Harus pakai sabuk pengaman, biar aman,” ujarnya tenang memasangkan sabuk itu di tubuhku, hhh untung saja.
Namun, kenapa jantungku jadi berdebar begini ya? Pipiku memanas bahkan telapak tanganku berkeringat. Pasti ini akibat baru pertama kali satu mobil berdua saja dengan pria.
“Belum memaafkan Amel?” tanyanya mengacaukan pikiranku.
Aku tidak menjawab, sebenarnya percuma juga ngambekan sama Amel itu hanya membuatku kehilangannya lebih cepat.
“Maksudnya baik, loh,” lanjutnya.
“Kenapa mau menikah denganku?” Itu saja yang mampu kutanyakan karena memang seharusnya pertanyaan inilah yang penting.
“Kenapa? Tidak suka?”
“Bagaimana mau suka, tidak kenal sama sekali,” ujarku mulai kesal lagi.
“Suka itu akan datang seiring berjalannya waktu, Aisa.” Dia optimis sekali, tapi dari caranya menjawab dia juga tidak sesuka itu padaku.
“Mungkin.” Aku memperlihatkan rasa bosanku dengan menguap.
“Apa akan berbeda kalau aku mendekatimu secara langsung?” tanyanya tidak peka.
Aku tidak akan menerimanya dia kalaupun dia tidak curang dengan membujuk Bapak dan Ibu. Aku tidak berencana menikah dengan orang yang jarak umurnya denganku sepuluh tahun lebih.
Benar, umurnya tiga puluh tahun. Memang pantas dipanggil om-om, bukan? Hanya saja tentu saja dia berbeda dia masih sangat muda bahkan tidak setua umurnya, aku jadi curiga dia ke salon berapa kali dalam satu Minggu.
“Aku tidak menyukaimu. Entah kamu datang lewat jalur manapun,” tegasku kesal. “Tapi memangnya aku punya pilihan lain? Aku tidak bisa melawan Bapak, aku menyayangi Ibu dan aku tidak mungkin mengecewakan mereka. Aku tidak ingin membahas ini lagi karena kamu tidak akan pernah mengerti.”
Dia tidak menjawab, perjalanan sepi. Aku sedikit tidak enak apa kata-kataku terlalu berlebihan? Apakah dia terluka?
“Maaf, tapi aku hanya mengatakan apa yang kurasakan.”
*****
Akhirnya kami sampai juga di sebuah rumah yang, mewah. Aku tak sempat menikmatinya karena aku semakin sedih saja.
Apa lagi ketika Amel langsung memelukku dengan berurai air mata. Dia terus minta maaf sehingga aku ikut menangis juga.
“Baiklah, kita sahabatan lagi.” Aku menghapus air mata begitu juga dia.
“Kamu mengerikan kalau marah,” keluhnya.
“Makanya jangan membuat aku marah,” ucapku sembari tersenyum, setidaknya di saat terakhir aku mendapatkan lagi sahabatku.
Rumah besar ini jadi sangat ramai. Keluarga mertuaku sudah menyiapkan segala sesuatu untuk saudara yang datang dari kampung. Aku bicara lama dengan Bapak dan Ibu.
Pembicaraan tidak jauh-jauh dari nasehat agar aku menuruti suami, jangan membantah dan kurangi sifat pecicilan. Mungkin mereka lupa seseorang bisa saja menjadi orang berubah setelah menikah dan tinggal di rumah mertua.
Mama membawaku ke liling rumah dan memperkenalkanku juga pada beberapa orang kerja di rumah ini. Ada dua pelayan wanita dan pria. Aku hanya tersenyum karena belum bisa hapal nama-nama mereka.
Lalu Mama membawaku ke lantai atas, dia membawa masuk kamar yang besar. Tempat tidur, ada meja kerja di ujung sana, lemari besar, meja rias, ada juga sofa bersantai serta kulkas mini di sudut ruangan.
“Itu kamar mandinya.” Mama menunjuk ke arah pintu yang tertutup dibagikan sudut lainnya.
Aku mengangguk, jika diperhatikan peralatan ini serba mewah. Mendadak aku merasa kerdil, merasa kalau tidak seharusnya aku di sini.
“Ini kamar Hanan dan sekarang akan jadi kamar kamu juga. Sekarang bersihkan dirimu dan istirahatlah, hari esok akan panjang.”
Kamar Hanan?
Aku menjadi merinding.
Tak lama kemudian Mama pergi meninggalkanku yang terpaku pada koper. Apa aku harus membongkar koperku sekarang ya?
Kuputuskan untuk mencari piyama tidur saja dan memutuskan untuk membersihkan diri di kamar mandi dan mengganti baju. Beruntung tadi di jalan sudah Isya jadi setelah membersihkan diri aku bisa langsung tidur.
Namun, aku terhenti. Apa aku akan tidur di sini? Bagaimana kalau nanti Hanan masuk dan langsung melakukan ‘itu’
Oh tidak!
Tiba-tiba pintu terbuka dan aku nyaris menjerit kalau saja tidak cepat menutup mulut melihat siapa yang masuk kamar.
*****
Karya Bintang_malam KBM id    LANJUTAN CERITANYA DISINI
BACA JUGA :  Sinopsis Novel Si Anak Pintar Karya Tere Liye