Menikah Jelang Ramadhan Part 4
Photo by Iqra Ali on Unsplash

Cerpen Menikah Jelang Ramadhan Part 4

MENIKAH JELANG RAMADHAN Part 4
Pagi itu aku dan Amel berniat ke pasar sembari lari pagi. Ibu meminta membeli beberapa macam bahan untuk dimasak karena akan ada tamu datang dari kota.
Karena jarang dapat perintah apa lagi ke pasar tentu saja aku bersemangat. Bisa dikatakan sangat gembira, rasanya wow bangetlah ke pasar kali ini tidak ditemani Ibu.
Namun, ketika sampai di perempatan jalan yang menang ada lubang dan lubang itu terisi air bekas hujan semalam.
Sebuah mobil melesat cepat melindas air sehingga tanpa ampun wajah kerudung dan baju kaus yang kukenakan basah kuyup dan aku bau lumpur.
“Hei!” teriakku kesal, beruntung sekali mobil itu berhenti tak jauh dari tempat kami berdiri.
Tak kuindahkan teriakan Amel dengan langkah cepat aku mendekati mobil yang sepertinya dua orang pria dari dalam mobil itu sudah ke luar.
“Kalian nggak punya mata ya?” hardikku menatap kedua orang itu bergantian.
“Maaf, Dek, Maaf.” Salah satu dari mereka yang sepertinya hanya sebagai penumpang berujar maaf berkali-kali.
“Maaf sih gampang, lihat nih sudah basah semua. Kalian nggak pernah lewat sini ya? Ini tu jalan desa kalau membawa mobil gak usah ngebut,” semprotku kesal setengah mati.
“Mbak, jangan marah-marah gitu nanti jodoh Lo.” Pemuda yang lain ikut bicara.
“Jodoh? Ogah aku menikah dengan om-om yang tingkat kesombongannya melebihi langit.”
“Om-om?” Pria yang pertama menjawab tadi nampak tersinggung.
“Lah, iya. Udah tua gitu masih saja suka ugal-ugalan.”
“Aisa!”
Amel menarik tanganku dan menyeretku menjauh.
“Maaf ya, Dek.” Pemuda itu masih berteriak.
“Nggak ada maaf,” balasku.
“Astaga, Aisa. Kamu kenapa jadi semengerikan itu?” Mata Amel membulat menatapku sementara mobil itu sudah melaju pergi.
“Mengerikan apanya, jelas mengerikan sudah basah begini,” gerutuku.
“Kamu jangan kayak gitu juga nyemprot orang, tuh orang sudah minta maaf.”
“Tetap saja orang itu keterlaluan.” Aku tidak terima pokoknya kalau ada pertemuan kedua kalinya dengan orang itu aku akan membuat perhitungan.
Setidaknya dia harus ganti rugilah. Kasih uang kek biar bisa beli baju di pasar nanti. Sekarang masak iya aku harus ke pasar bau lumpur kayak gini?
“Sekarang bagaimana?” Aku menatap Amel dengan bingung.
“Ya ayo kita ke pasar,” jawab Amel enteng, enak sekali jadi dia yang gak kena cipratan.
“Tapi ….”
“Air cipratan itu nanti juga kering masalah baunya yang harus ditahan, Sa. Nggak mungkinkah kita pulang lagi.”
Dengan perasaan dongkol berkali lipat aku setuju dengan ucapan Amel, ke pasar dengan menahan bau air cipratan yang baunya tidak enak.
“Awas saja kalau bertemu lagi aku akan tinju tuh orang.” Bahkan setelah sampai di pasarpun aku masih kesal setengah mati.
*****
Dan sekarang?
Kenapa dia sih?
Langkahku terhenti dan aku mencari-cari sosok yang seharusnya ada di sampingku saat ini.
Amel di mana sih?
“Ayo.” Ibu mengagetkanku.
“Amel mana, Bu?” bisikku pelan menatap lagi ke arah calon suamiku yang sepertinya terlihat santai bicara akrab dengan Bapak.
“Kenapa cari Amel? Itu penghulunya sudah menunggu,” ucap Ibu merapikan depan jilbabku.
“Bu, kenapa orang itu sih?” tanyaku memelas, aku punya dendam pribadi pada orang itu di pertemuan kedua kami, tapi kok aku akan jadi istrinya, bagaimana cara membalas dendam?
“Kenapa?” Ibu nampak was-was.
“Aku punya masalah yang belum selesai dengan orang itu.”
“Astagfirullah.” Ibu mengusap dadanya, sementara Bapak sudah melirik ke arah kami berdiri beberapa kali.
“Masalah apa? Nanti saja selesaikan kalau kalian sudah menikah. Kamu nggak mau kan Nak, Bapakmu malu?”
Menyelesaikan masalah setelah menikah? Nanti malah jadi istri durhaka.
Ya Allah, kenapa begini amat ya, aku harus menikah dengan pria duda tua itu. Maksudku pasti jauh lebih tua dariku itu.
Dengan terpaksa aku mengikuti Ibu duduk di samping Bapak, sebisa mungkin menghindari bertatapan dengan pria yang pasti bernama Hanan itu.
Sepanjang nasehat pernikahan aku terus berdoa agar ada satu tragedi saja yang akan membuat pernikahan ini berakhir.
Sayangnya tidak ada, bahkan saat Bapak melakukan kesalahan dalam menikahkan tidak juga ada kejadian yang bisa membatalkan pernikahan ini.
Sampai perkataan saksi melemahkan segala tulang belulang yang ada di tubuhku ketika terdengar kata ‘sah’ memenuhi ruangan rumah.
Lalu terjadilah hal yang paling tidak kuinginkan. Aku mengalami tangan pria itu dan harus mencium punggung tangannya.
Hanan tersenyum padaku, jelas dia jauh lebih dewasa dariku. Ukh! Dia lebih pantas kupanggil Om.
Dengan muka ditebalin aku menyalaminya, terasa pula tangannya menepuk pelan kerudungku.
Astaga, aku dengan cepat menarik diri. Bikin merinding saja, Awas saja nanti macam-macam.
Setelah akad, aku diperkenalkan dulu pada ayah dan ibunya Hanan. Mereka memintaku memanggil mereka Papa dan Mama sebagaimana Hanan memanggil.
Aku cuma mangut dan tersenyum, karena tak tahu juga musti berkomentar apa. Kalau dilihat dari sikap mereka saat ini sepertinya mereka orang baik. Aku rasa kami akan dekat dalam waktu yang tidak lama.
Dekat?
Buat apa juga dekat-dekat dengan mereka kalau aku sedang harus membalaskan dendam pada anaknya.
Dan anaknya itu adalah suamiku sekarang.
Kami tidak duduk bersanding sebagaimana yang seharusnya. Karena memang acara di rumahku sangat sederhana. Hanya mengabarkan keluarga dekat saja.
Aku menjaga jarak dengan Hanan, kalau dia mendekat aku akan langsung mengambil jarak dengan berbagai alasan. Meskipun Kak Vina sudah memberikan kode dengan membesarkan matanya, aku tak peduli.
Akhirnya aku berhasil masuk kamar ketika suara azan Zuhur berkumandang. Segera kukunci pintu dan merebahkan diri di kasur. Rasanya sangat melelahkan, harus tersenyum dan pura-pura bahagia.
“Aisa!”
Terdengar ketukan pintu dari jauh.
“Aisa?”
Bapak?
Astaga, aku tertidur dalam posisi telentang dan masih memakai kebaya lengkap.
Kamu bagaimana sih, Aisa? Sempat-sempatnya tidur! Aku terpaksa mengomeli diri sendiri.
“Aisa, kamu di dalam, Nak?”
“Iya, Pak.”
Aku bangun dengan malas dan membuka pintu. Bapak masuk dengan wajah cemas, bahkan matanya nampak memerah.
“Kenapa, Pak?” tanyaku ikut cemas.
“Kamu bikin Bapak cemas, Nak.” Tangan keriput itu mengusap kerudungku. “Bapak kira kamu kabur, sebab ibumu tadi mencarimu ke mana-mana.”
“Ibu tidak mencari ke sini?” tanyaku merasa bersalah sebab tadi saat masuk kamar memang tak bicara pada siapapun.
“Aisa! Ya Allah, Nak.” Ibu datang langsung memelukku erat, semakin sesak rasanya melihat kecemasan mereka.
Kalau begini keadaannya aku takkan berani kabur nanti.
“Maafkan aku, Bu,” baikku merasa sangat bersalah. “Tadi aku memang masuk kamar diam-diam.”
“Bapak dan Ibu tenang saja aku tidak akan ke mana-mana. Aku tidak akan mengecewakan Bapak dan Ibu.”
“Kamu sudah shalat?” tanya Bapak, aku menggeleng.
“Segeralah shalat dan temani suamimu makan siang.”
“Apa?”
“Sekarang itu akan jadi tugasmu, Nak,” ucap Ibu tersenyum.
Ya Allah, tiba-tiba aku ingin kabur sungguhan.
*****
karya bintang malam KBM id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.