MENIKAH JELANG RAMADHAN
Photo by Iqra Ali on Unsplash

Menikah Jelang Ramadhan Part 3

MENIKAH JELANG RAMADHAN Part 3
*****
Pertanyaan itu menggantung di udara tanpa ada jawaban, aku segera menoleh ternyata mata Ibu sudah terpejam.
Kabarnya Ayah dan Ibu dulu juga dijodohkan, tentu saja mereka seharusnya memiliki kecanggungan yang sama denganku. Namun benarnya mereka satu kampung bisa saja sebelum dijodohkan mereka sudah lirik lirikan.
“Bu.” Aku menggoyang tangan Ibu, tapi sepertinya Ibu benar-benar sudah tidur.
Sepertinya malam pertama esok harus kulewati dengan berbagai kengerian. Tentu saja mengerikan, aku belum pernah satu ruangan berdua saja dengan pria lain selain Bapak, mengerikan, bukan?
Bagaimana kalau dia memaksa?
Astaga, apa yang harus kulakukan ya kalau begitu kejadiannya? Aku harus minta tolong pada siapa?
Tidak mungkin minta tolong pada mertua, memalukan. Sepertinya aku harus menerima saja kenyataan ini, atau nanti aku pikirkan untuk kabur saja di malam pertama.
Oke, Aisa. Sebaiknya segera tidur akan banyak hal yang bisa terjadi esok.
*****
Seperti biasa aku selalu terbangun ketika azan subuh berkumandang, yang ini sudah seperti panggilan alam. Sejak kecil juga sudah jadi kebiasaan kalau suara panggilan ini dengan mudah akan membangunkanku.
Sepertinya malam tadi orang di rumah ini tak pernah tidur. Ibu sudah tidak ada, entah kapan beranjak padahal aku memeluknya tadi malam.
Amel masih mendengkur dan itu membuatku gemas, dia memang tukang tidur lebih hebat dariku dia tidak mudah terbangun jangankan oleh azan dari masjid bahkan kalau seandainyapun petasan berbunyi dekat kepalanya dia takkan terbangun.
“Meel,” bisikku.
Dia masih mendengkur. Aku yakin saat ini dia sedang mimpi bertemu Johan pacarnya dari desa sebelah.
“Ameel.” Kali ini aku mengguncang tubuhnya satu-satu hal yang akan membuatnya bangun adalah dengan mengguncang tubuhnya.
Dia langsung menggeliat menatapku dengan mata besar. Kesal pasti karena sudah kubangunkan.
“Ke surau yuk, shalat berjamaah,” ajakku.
“Nggak nanti saja aku mau tidur lagi ….”
“Mel, aku akan pergi nanti, kamu ….”
“Oke oke ayo.” Dia langsung bangun dengan mengucek mata. Itu membuat aku berpikir apa dia sedih akan berpisah denganku?
Kami berdua masih duduk di surau paling ujung saf wanita. Aku baru saja selesai membaca alqur an, hal yang biasa kulakukan ketika sudah shalat wajib.
“Apakah kamu bahagia, Sa?” tanya Amel tiba-tiba ketika dia baru saja melakukan hal yang sama denganku.
“Apa?” Aku menatapnya heran.
“Kamu akan menikah apakah kamu bahagia?”
Aku menggeleng, tidak tahu harus mengatakan apa. Mungkin hatiku akan berbeda kalau aku mengenal Hanan itu sedikit saja.
“Aku sedih,” ucapku pelan.
“Sedih? Kenapa? Jangan katakan kamu sedih karena tidak bisa begituan di siang hari.”
“Amel!” bentakku sebal.
“Oke oke, aku hanya bercanda. Sekarang katakan kenapa kamu sedih?”
“Aku akan pergi jauh entah kapan akan kembali lagi ke sini,” gumamku.
“Semua anak perempuan melakukan itu, Aisa. Kamu nggak usah mikirnya kejauhan malah jadi mengerikan nanti.”
“Kamu tahu nggak, kadang aku mikirnya apa Bapak nggak sayang ya sama aku kok dia mau aku menikah dengan orang jauh.”
“Aisa, jangan bicara begitu. Bapakmu itu terbaik sepanjang masa.”
Aku tersenyum membenarkan apa yang dikatakan Amel, dia memang Bapak terbaik meskipun aku masih saja mempertanyakannya kadang-kadang.
“Ayo kita pulang, banyak hal yang harus dipersiapkan. Ibumu tadi mengatakan keluarga calon suamimu akan segera datang.”
“Sepagi ini?”
“Ya, harus pagilah.” Amel menarik tanganku berdiri bersamanya dan dia tidak memberiku lagi kesempatan untuk protes.
Beruntung jarak surau dan rumahku tidak terlalu jauh, sehingga kami tidak takut akan melewati tempat lengang seperti halnya yang ada dalam cerita-cerita seram.
“Hmm Mel, aku boleh bertanya sesuatu?” Aku sedikit memperlambat langkah dan Amel mengikutiku.
“Apa?” Dia menungguku dengan penasaran.
“Hmm kamu sudah pernah melihat orang begituan?” bisikku membuat tawa nyaris tersembur dari mulut Amel.
“Jangan melihat begituan saja aku sudah pernah,” jawabnya suka-suka.
“Apa?” Aku terkejut bukan kepalang.
“Bercanda,” ralatnya dengan wajah dipolos-polosin. “Begituan itu cara membuat anak, Aisa.” Dia mulai serius.
“Iya, tapi aku tidak tahu bagaimana detailnya. Apa kamu pernah melihatnya?”
“Ya nggaklah, aku mau lihat di mana?” Nah wajah Amel pun kini kelihatan bingung. “Dengar ya, Sa aku nggak tahu sih bagaimana detailnya, tapi yang jelas kita akan sangat dekat dengan seorang pria. Ingat video kissing yang kuperlihatkan padamu waktu itu?”
Aku mengangguk.
“Kira-kira sedekat itulah.” Dia nampak yakin.
“Kenapa tidak kamu intip saja Kak Vani?”
“Gila kamu, bisa-bisa aku dibunuh.” Lalu kami berdua tertawa aneh, aneh dengan situasi yang akan aku hadapi.
“Sudahlah jangan dipikirkan biarkan saja waktu yang menjawab semuanya.” Amel kembali menyeret tanganku dan kaki kami melangkah lebar menuju rumahku.
****
Entah salon sewaan siapa berhasil mendandaniku secantik ini, aku tidak merasa tidak mengenal diriku sendiri saat melihat dari pantulan kaca.
Kebaya putih dan rok batik bersama kerudung warna putih menempel cantik di tubuhku. Riasan wajahnya sangat natural, menurutku sangat pas dengan acara sakral yang akan terjadi sebentar lagi.
“Cie, sudah cantik.” Seseorang muncul dengan perut besarnya, dia mengerling menggodaku.
“Kak Vani, hamil?” tanyaku spontan rasanya belum lama menikah perutnya sudah sebesar itu.
“Iya nih.” Dia mengusap perut besarnya itu dan tersenyum bahagia.
So sweet banget sih kelihatannya padahal dia kepayahan dan memilih duduk di tepi tempat tidur.
“Kakak nikah baru berapa bulan sih, kok sudah sebesar itu perutnya?” selidikku penasaran
“Apa jangan-jangan ….”
“Hus, kamu itu, kakak nikah udah sembilan bulan dan perut Kakak udah delapan bulan,” jelasnya.
“Vani mah topcer,” serobot Kak Vina.
Apa pula itu top cer?
Sebenarnya aku ingin bertanya sih lebih lanjut pada Kak Vani, tapi Kak Vina memberi kode. Dia melarang aku bertanya karena itu akan terkesan sangat memalukan.
Dia menggelengkan kepala kemudian meletakkan ponsel pintarnya di tanganku. “Kalau kamu penasaran cari saja di google, tutorial malam pertama,” bisiknya membuatku memandang ngeri ponsel yang mendadak berubah menyeramkan itu.
Belum juga aku sentuh itu ponsel suara ribut-ribut dari luar sudah terdengar. Penasaran aku hendak berdiri tapi Kak Vina melarang.
“Nanti saja kamu ke luar kalau sudah dipanggil, itu keluarga calon suamimu.”
Oh.
Entah kenapa aku tak lagi berminat mencari tahu tentang ‘begituan’ itu. Perasaanku gelisah, sepertinya sesuatu yang besar akan segera terjadi.
Tak lama kemudian Ibu datang menjemputku, bibirnya tersenyum penuh arti, tapi matanya sembab.
Ibu menangis?
“Kenapa Ibu menangis?”
Ibu menggeleng, sedikit merapikan riasannya di kaca lalu membimbingku untuk berdiri bersamanya.
“Jaga tingkah lakumu.” Ibu mengingatkan aku mengangguk patuh, tentu saja tidak akan mempermalukan Bapak atau Ibu di acara seperti ini.
Aku ke luar kamar dengan perasaan berdebar, di luar sudah ramai, pertanda akad nikah akan segera dilaksanakan.
Mataku tertumbuk pada sepasang mata yang sedang menungguku di hadapan penghulu.
Tunggu!
Wajah itu sangat familiar, dan ….
Dia?
Astaga!
karya bintang malam KBM id
lanjut  part 4 disini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.