menikah jelang ramadhan
Photo by Iqra Ali on Unsplash

Cerpen Romantis Menikah Jelang Ramadhan part 2

MENIKAH JELANG RAMADHAN
Part 2
Namun tentu saja itu akan berbeda, mengingat aku dan calon suamiku itu tidak saling mengenal, tapi tetap saja aku penasaran.
“Begituan itu ngapain sih, Kak,” bisikku hati-hati, tapi Kak Vina justru terbahak keras jadi menyesal aku berusaha merahasiakan
“Nanti kamu juga tahu.”
Jujur saja mungkin aku agak sedikit kampungan dan ketinggalan zaman. Disaat banyak anak muda yang kepergok ‘begituan’ aku malah tidak tertarik sama sekali begituan itu apa.
Bukan apa-apa juga, tentu saja ini berkat pengawasan Bapak dan Ibu. Mereka bagai penjaga dua puluh empat jam yang menjagaku secara keterlaluan.
Kalau pergi ke mana-mana harus sama Amel, tidak boleh pegang ponsel pintar padahal yang lain sudah pada punya.
“Banyak pengaruh buruknya.” Itu kata Bapak. Ya, aku sih maklum. Secara Bapak adalah penikmat berita yang wara-wiri di televisi. Maraknya tingkat kejahatan yang dipicu oleh tontonan di ponsel membuat Bapak jadi parno, dan akulah yang jadi korban keparnoan itu.
Aku tidak bisa membantah banyak karena memang tidak ada gunanya. Lagi pula aku bukan orang yang suka berdebat dengan Bapak atau Ibu, bagiku sama saja itu dengan durhaka. Apa lagi kalau yang dikatakan Bapak dan Ibu itu memang untuk kebaikan.
“Kak, Hanan itu seperti apa?”
Dari hal yang ‘begituan’ lebih baik mengalahkan perhatian ke hal lain. Biar sedikit rileks dan tidak terlalu tegang.
Ya ampun, aku memang tegang sih.
“Dia gagah sangat cocok untukmu.”
Aku mencibir mendengar pujian Kak Vina, tentu saja dia akan memuji. Kalau sampai dia menghina bisa-bisa lima puluh persen keinginanku menikah menjadi empat puluh sembilan persen.
“Keluarganya bagaimana?”
Jangan sampai aku jadi menantu tersiksa nanti.
“Hanan itu anak tunggal sama dengan kamu. Makanya Kakak mengatakan kalian cocok.”
“Tinggal di rumah mertua itu bukannya mengerikan, Kak?” Aku merasa seluruh tubuhku lemas mengingat kata Bapak kalau Hanan akan langsung membawaku setelah menikah.
“Nggaklah, jangan kebanyakan nonton kamu,” tukasnya.
“Terus nanti aku disuruh bekerja seharian.”
“Aisa, jangan berpikiran buruk. Allah itu senantiasa menuruti prasangka hambanya. Hati-hati loh.”
“Astaghfirullah.” Aku mengusap dada.
Ini gara-gara Bapak dan Ibu yang saban hari nonton serial india, pikiranku jadi keracunan. Karena memang di sana hampir semua mertua jahat.
“Sebenarnya aku heran, Kak. Kenapa Bapak tidak mengizinkan aku untuk bertemu dengan Hanan ya? Apa dia tahu aku tidak akan suka?”
“Bukannya begitu. Bapak dan ibumu hanya jaga-jaga kamu kan suka ngomong sembarangan.”
Oh itu.
Bukan salahku juga, apa yang dirasakan memang harus dikatakan, bukan?
“Besok kamu akan segera jadi istri, jangan suka ngomong sembarangan atau ngomong yang tidak perlu.”
Aku mengangguk, hal yang sama juga sudah dikatakan Ibu. Sepertinya mereka benar-benar cemas aku akan melakukan kesalahan. Aku semakin penasaran seperti apa sih si Hanan itu?
“Kamu harus tahu kapan mulai bicara dan kapan tidak bicara. Ingat ya besok ketika keluarga calon suamimu datang kamu harus bersalaman,” lanjut Kak Vina.
“Iya iya, Ibu juga sudah mengajarkan hal itu.”
“Bagus. Sekarang saatnya ke kamar pengantin, tempat itu harus dirias sebaik mungkin.”
“Bukannya aku akan segera dia bawa pergi, kenapa harus dirias kalau akan ditinggalkan,” jawabku.
“Itu tradisi, Aisa.”
Huh lagi-lagi tradisi.
*****
Malam semakin larut, tapi rumah belum juga sepi. Memang begitu kalau akan ada acara. Entah itu pesta nikah atau hal lainnya, warga akan berkerumun saling membantu, memasak, merias rumah dan lain sebagainya.
Aku tidur di tengah rumah bersama Amel. Dia sudah tidur dari tadi, sementara mataku masih saja betah terbuka dan pikiran mengelana ke mana-mana.
Kulirik jam dinding sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Kuputuskan untuk mencari Ibu. Dalam beberapa hari ini wanita penurut itu sibuk, akan bertemu denganku kalau hanya ingin berceramah saja.
Ya, ceramah itu. Tentang bagaimana seorang istri itu bersikap. Bagaimana melayani suami, dan surga istri itu ada pada suami.
Rasanya tidak adil, tiba-tiba kok surga Kuta ada pada orang asing. Padahal dia hanya terima besar.
“Bu, tidur bareng yuk.” Aku menemukan Ibu di dapur bersama ibu-ibu lainnya, sedang berkutat dengan kuali besar yang isinya mengeluarkan aroma yang sangat menggiurkan.
“Cie yang sebentar lagi mau jadi istri orang,” goda ibu-ibu yang lain yang terpaksa kuhadia cengiran.
“Aisa, Ibu banyak pekerjaan ini,” jawab Ibu.
“Biar kugantikan, Bu. Temani saja Aisa.” Beruntung Kak Vina datang sebagai pahlawan dan tersenyum lagi menggoda membuatku melengos sebal.
Tak lama kemudian aku dan Ibu sudah merebahkan tubuh di atas kasur tipis di tengah rumah di antara yang lainnya.
“Ibu apa tidak sedih kalau besok aku dibawa orang?” tanyaku pelan.
“Suamimu yang akan membawamu,” ralat Ibu.
“Ya, dia.”
“Tidak, karena memang begitu setiap anak perempuan harus pergi mengikuti suaminya.”
Aku menatap langit-langit rumah yang telah usah, mungkin ini takkan terulang lagi dalam waktu yang lama.
“Ibu benar tidak sedih? Bagaimana kalau dia tidak mengizinkan aku bertemu dengan ibu lagi nanti?”
Aku bergidik sendiri membayangkan itu.
“Hanan orang baik bapakmu tak mungkin salah pilih. Sekarang sebaiknya kamu tidur, jangan sampai kamu kelelahan untuk acara esok.”
“Hanan itu anaknya teman Bapak yang mana, Bu?” Aku masih enggan tidur, karena yakin tidur berdua dengan Ibu seperti ini takkan terulang lagi. Atau kalaupun terulang entah kapan, nanti aku pasti sangat rindu.
Selama ini aku belum pernah tinggal berjauhan dengan Ibu dan Bapak. Aku tidak punya keinginan untuk kost seperti teman-teman lainnya atau seperti Amel.
Waktu SMA jarak sekolah dan rumah lumayan jauh, Amel bahkan kost guna menghemat biaya kalau musti bolak-balik. Sementara Bapak rela mengantar dan menjemputku lagi dengan motor bututnya.
Hanya sesekali jauh aku menginap di kostnya Amel, itupun Bapak terus saja berpesan jangan sampai ke luar malam. Entah sekarang aku harus bersyukur atau tidak akibat ketatnya penjagaan dari kedua orangtuaku.
“Anak teman lama bapakmu, meskipun dia sudah pernah menikah tapi Ibu yakin dia menyukaimu ketika Bapak memperlihatkan fotomu padanya.”
“Kok aku tidak diperbolehkan melihat fotonya?”
Aku tak percaya ada yang curang di sini, apa Bapak sebegitu yakinnya kalau aku akan menerima orang itu begitu saja tanpa harus melihat orang itu seperti apa?
Ya Allah, ini orang dahulu banget gak sih?
“Percaya sama bapakmu, Nak?” Ibu membetulkan lagi selimut agar benar-benar menyelimuti kami berdua.
“Selama ini bapakmu tak pernah salah pilih, kan? Dia tahu yang terbaik untukmu.”
Ya Bapak tak pernah salah pilih, aku tahu itu.
“Ya aku percaya sama Bapak. Bu apakah Bapak tidak sedih menikahkan aku?”
“Sudah sudah, ayo tidur.” Suara Ibu serak aku tahu pasti Ibu sedang sedih.
Aku terdiam mengusap air mata yang jatuh dari sudut mata. Dulu sekali aku pernah berharap semoga diberikan suami yang baik hatinya seperti Ayah, ya walaupun suka nyuruh-nyuruh.
“Bu, bagaimana malam pertama Ibu dengan Bapak?”
karya by Bintang_Malam KBM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.