cerpen romantis menikah menjelang ramadhan

Cerpen Romantis Menikah Jelang Ramadhan Part 1

Cerpen Romantis Menikah Jelang Ramadhan

“Kamu kenapa menikahnya jelang Ramadhan sih?” Aku heran dengan pertanyaan Amel.
“Kenapa, bukankah itu bagus?”
“Bagus apanya. Aku melihat Kakakku yang habis nikah beberapa bulan lalu suka mandi tengah hari jelang waktu Zuhur.”
“Di mana salahnya?” Aku masih tidak terlalu mempedulikan percakapan ini, malah semakin sibuk merangkai bunga yang hendak digunakan untuk menghias kamar nanti.
“Ya, salah. Masalahnya mereka sudah mandi pagi juga.”
“Terus?”
“Astaga, Aisa. Itu artinya mereka begituan di siang hari juga. Kalau di bulan puasa nggak boleh begituan, nah bagaimana dengan kamu?’
Astaga, jadi itu maksud Amel?
“Ih, Mel. Kamu mikirnya kejauhan.” Aku melengos mengabaikan hanyalan tak masuk akal Amel.
“Tentu saja, nanti niatnya ibadah malah merusak ibadah.”
Kalau saling cinta sih mungkin, nah ini calon suamiku dari dunia yang berbeda denganku, pasti selama Ramadhan kami tidak akan melakukan apa pun, atau bisa saja selamanya.
“Apa lagi aku dengan calon suamimu itu duda, kan?”
Aku mengangguk, mulai jengkel dengan berbagai alibi sahabatku ini.
“Nah, parahnya kalau duda. Dia sudah berpengalaman dan ….”
“Mel, kata Bapak dia tahu agama.”
“Nah ini yang parah, orang yang tahu agama paling sulit pula nahan nafsu.”
“Amel!”
Aku lega mendengar Bibi Hani memanggil Amel, artinya aku akan segera bebas dari kata-kata yang agak mengerikan.
“Ya, Bu. Sebentar,” balas Amel berteriak. “Kamu harus bisa nahan diri nanti ya, Sa. Jangan sampai loh mandi tengah hari saat bulan puasa.” Lalu dia berlalu dengan cekikikan.
Aku mengembuskan napas keras, kesal dengan sikap Amel. Aku tahu maksudnya mungkin cuma menggodaku, tapi jelas itu membuatku tak nyaman.
Aku dan Amel sahabatan dari kecil, karena rumah kami berdekatan dan ibu kami juga ada ikatkan saudara. Aku lebih besar tiga bulan dari Amel dan satu bulan lalu merayakan hari ultah yang ke sembilan belas tahun.
Ya, aku masih sembilan belas tahun. Entah kenapa Bapak dan Ibu ingin sekali menjodohkan aku dengan seorang duda dari kota, anak temannya Bapak.
Seperti biasa aku tidak bisa menolak banyak, karena tidak kuliah dan juga tak punya pacar. Alasan yang kukemukakan selalu dipatahkan oleh Bapak.
“Nanti kalau suami kamu setuju kamu bisa kuliah dengan biaya dari dia. Kalau dari Bapak nggak ada biaya, Nak. Makan saja susah.”
Itu kata Bapak ketika aku menggunakan alasan ingin kuliah demi menolak pernikahan ini.
“Lagi pula menikah itu ibadah terpanjang seumur hidup dan kamu harus dengan orang yang tepat. Ya, Hanan ini orang yang tepat,” tambah Bapak sedangkan Ibu seperti biasa hanya mangut mengiyakan kata Bapak.
“Bagaimana tepat ketemu aja belum pernah,” gerutuku tanpa sadar. Aku menjadi kesal mengingat hari-hari yang kulewati selama ini.
Ya, sepi. Tanpa ada niat pacaran atau dekat dengan seseorang. Bayangkan sejak SMP sampai SMA aku tidak pacaran, jangankan ciuman pegangan tangan saja belum pernah.
Karena itu Amel sampai berteriak histeris ketika aku memberi kabar akan dijodohkan. Dia bahkan sampai meminjam ponsel kakaknya guna memperlihatkan adegan ciuman di sebuah Drakor entah apa maksudnya.
Yang jelas dia mengatakan apa aku sudah siap beginian dengan orang asing? Aku sendiri nyaris shock diperlihatkan tontonan seperti itu.
Maklum selama ini aku hanya nonton sinetron, kalaupun ada Drakor yang tayang di televisi nggak ada juga adegan ciuman kayak gitu.
Dengan tubuh lemas aku bersandar di kursi kayu tanganku berhenti menyentuh rangkaian bunga. Bagaimana kalau aku kabur saja?
Pikiran itu justru ditertawakan oleh sebagian lain hatiku. Kabur ke mana? Dengan siapa? Jomlo mana bisa kabur?
“Eh calon pengantin kenapa tidak bersemangat?”
Kak Vina dia duduk di sampingku dengan wajah cengesan. Dia kakak sepupu yang terbilang dekat denganku dia menikah dua tahun yang lalu, tapi tentu saja prosesnya beda denganmu dia menikah dengan pacarnya.
“Malas,” gumamku merebahkan kepala di sandaran kursi yang kududuki.
“Hei, besok mau nikah kenapa malas?”
Dia menarik kerudung instan yang kukenakan, aku segera duduk dengan lurus menatap wajah yang semakin cantik itu lama.
“Kak, nikah itu enak atau nggak?” tanyaku serius, membuat Kak Vina tersenyum penuh arti.
“Ya enaklah,” jawab meraih beberapa tangkai bunga dan mulai merangkainya. “Kita ada yang mendampingi, menyayangi, memberi uang ….”
“Apa Kakak juga seperti Ibu? Nurut saja sama Bapak.”
“Nurut sama suami itu harus selama yang dia minta adalah kebaikan dan kalau dia melakukan kesalahan sebagai istri kita harus mengingatkannya juga.”
“Ya nggak asik, Ibu seperti tak punya pemikiran sendiri. Apa-apa tanya Bapak dulu. Minta izin pergi mainpun harus bilang bapakmu dulu,” gerutuku ngeri membayangkan kehidupan yang dilakoni Ibu.
“Ya memang harus seperti itu, Sa.”
Kalau dilihat rata-rata penduduk kampung ini memang seperti itu, pada nurut saja sama suami. Aku heran bisa ya seperti itu?
“Kakak kenal tidak dengan calon suamiku itu?” bisikku pelan membuat Kak Vina tersenyum geli.
“Ya, kenal. Waktu dia ke sini ada Kakak.”
“Dia pemarah tidak?”
Kak Vina menggeleng “Sepertinya tidak.”
Sepertinya?
“Dia membawa anaknya?” selidiku.
“Dia belum punya anak, Aisa. Dia memang sudah duda, tapi belum sempat punya anak istrinya sudah keburu meninggal.”
“Dia sudah move on belum?” tanyaku, sebenarnya bagus sih kalau dia belum move on, itu artinya dia tidak akan tertarik padaku. Tetapi kenapa dia mau dijodohkan denganku?
“Aisa, kita tidak tahu bagaimana perasaan seseorang, tapi yang jelas dia adalah lelaki yang tepat untukmu yang pecicilan,” goda Kak Vina membuatku cemberut.
“Apaan?” sebalku.
“Kak, bagaimana dengan malam pertama. Apa yang terjadi?”
Kak Vina sedikit kaget, tapi kemudian dia tertawa.
“Kamu cari di YouTube deh, tutorial malam pertama.” Dia menekan perutnya menahan tawa.
“Kenapa di YouTube? Aku nggak ada ponsel pintar, mana mau Bapak membelikan.”
“Zaman sekarang masih ada ya yang sepolos kamu?” Kak Vina mengusap bahuku perlahan dia sudah tidak tertawa lagi tapi kini menatapku serius.
“Kamu tahu, kan, menikah itu ibadah. Ladang pahala yang begitu luas.”
Aku mengangguk, Ibu juga sudah memberitahu itu. Mengajarkan bagaimana menjadi istri Soleha, harus nurut pada suami.
Terdengar sangat membosankan!
“Katakan saja, Kak, bagaimana malam pertama itu?” Aku memotong ceramah Kak Vina yang pastinya akan sangat panjang.
“Hhmm bagaimana ya?”
Nah, Kak Vina sendiri jadi bingung. Atau jangan-jangan benar yang dikatakan Amel tadi.
“Bagaimana apanya?”
Aku merasa jadi tegang sendiri.
“Pokoknya enaklah.” Kesimpulan Kak Vina benar-benar membuatku tercengang karena wajah Kak Vina bersemu merah.
“Enak bagaimana?” Mataku melebar berusaha mencerna bagaimana enak yang dikatakan Kak Vina, pikiranku ikut mengembara tak tahu malu pada adegan ciuman dalam drama Drakor yang diperlihatkan Amel.
“Enak sampai kamu akan ketagihan.”
Apa?
“Ketagihan ngapain?”
“Ya begituan,” jawab Kak Vina santai.
Begituan?
Habis begituan mandi jelang Zuhur, itu kata Amel tadi.
Astaga!
karya by Bintang_Malam KBM
lanjut part 2 DISINI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.